x

.

Sunday, 16 February 2014

Senin Kurang Ajar


Senin, 10 Februari 2014

Waktu hampir menunjukkan pukul 12.00 ketika ada seekor sapi (baca : Justi) maju ke depan kelas dan menirukan salah satu adegan di film suckseed. Dengan penuh gairah dan semangat yang menggebu-gebu, sapi ini mulai membentuk tangannya menyerupai orang yang sedang bermain gitar dan bernyanyi sambil berteriak : LOVE YOUUUUUU!!!! *Jeeenggg* MISS YOU!!! *Jeeenggg* NEED YOUUUUU!!! *jeeenggg* (catatan : namanya juga sapi, dia tidak tau kalau sebenarnya gitar itu bunyinya *jrrreeenggg*, bukan *jeeenggg*)

Si babingung (baca : Wisnu) sedang asik-asiknya ngobrol dengan si tukang sakit munafik (baca : Bram) dan si pembalap dari gua hantu (baca : Rinal) di jendela depan kelas. Chez dan kelompoknya lagi asik menggosip sambil bermain. Stenly, Budi, dan saya lagi asik main dam di belakang kelas. Anak-anak XII IPA 2 yang lain juga sedang sibuk dengan urusannya masing-masing yang membuat suasana kelas saat itu menjadi sangat ribut. Saking ributnya, kami tidak mendengarkan bahwa saat itu doa siang akan segera dimulai.

Tiba-tiba, muncullah sesosok makhluk berambut putih dengan perut buncit. Mahluk itu menampakkan diri di jendela samping kelas, dan dia ternyata adalah... Pak Yatno, guru agama kami. “kamu tidak tahu ini lagi doa kah? Ribut sajaaa...” ucap mahluk buncit itu dengan nada marah. Kelas secara ajaib berubah menjadi sepi.Namun, ada 4 orang bisa dilihat dengan jelas oleh si makhluk buncit. Mereka adalah Justi, Wisnu, Bram, dan Rinal.

Bram dan wisnu sedang duduk di jendela, Rinal di depan Wisnu, dan Justi berada di depan meja saya. Ketika mereka ber-4 mengetahui kemunculan makhluk buncit, Justi, Wisnu, dan Rinal segera memasang tampang munafik, Sedangkan bram segera menunduk dan bersembunyi di balik meja. sialnya, yang mereka hadapi adalah pak Yatno. Mungkin karena beliau guru agama yang suci, jadi beliau bisa mengetahui segala tipu daya muslihat manusia. Hingga pak Yatno sadar bahwa ada sosok makhluk yang penuh dosa sedang bersembunyi di balik meja. “itu yang sembunyi di bawah itu berdiri!!! Berdiri cepat!!! Berdiri berdiri!!!” lalu Bram yang sudah ketahuan akhirnya berdiri. Hal itu sontak membuat seisi kelas senyum-senyum dan menahan tertawa.

Pak Yatno sempat pergi dari jendela kelas kami. setelah doa siang, barulah ia muncul kembali. Kemunculannya betujuan memanggil keempat orang kurang ajar (Justi, Wisnu, Bram, dan Rinal). Anehnya, mereka ber-4 tidak dimarahi di kelas kami, melainkan dibawa ke depan kelas XII IPA 1 dan dimarahi disana. Hahahahaha, pak guru sepertinya ingin membuat mereka malu. Biadab memang si makhluk buncit yang satu ini. Akhirnya setelah dimarah, diceramahi, dimarah, diceramahi, dimarah lagi, kemudian diceramahi lagi, pak Yatno menyuruh mereka membersihkan toilet putra sebagai hukumannya.

Mau tidak mau, mereka harus mau. Si sapi, si babingung, si tukang sakit munafik, dan si pembalap dari gua hantu akhirnya membersihkan toilet putra. Hanya kilauan sang mentari serta aroma wangi khas toilet putra yang menemani setiap gerak dan langkah mereka pada siang itu.

Awalnya, saya mengira suasana kelas akan menjadi sepi selepas 4 orang kurang ajar dimarahi pak Yatno, Tapi anggapan itu salah! Kelas tetap saja ribut. Bukan kelas biadab XII IPA 2 namanya kalau tidak ribut saat jam kosong. Namun, ini bukan keributan biasa.
Ini adalah keributan bersama. Keributan yang dipimpin oleh Alvin dan Stenly dalam permusyawaratan perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
( eh sori sori salah ketik, bisnya pacar sms-sms terus...)

Mulanya, Alvin memberi siraman rohani dan motivasi-motivasi kepada kami (anak-anak XII IPA 2), kemudian saya tidak tahu kenapa, arah pembicaraan kami mulai berubah. Entah siapa yang memulainya terlebih dahulu, siang itu pembicaraan kami malah didominasi oleh sebuah nama : PAK YUNUS.

Jika saat itu pak Yunus mendengar apa yang kami bicarakan, mungkin ia akan melompat dari ruang guru ke kolam ikan depan ruang guru sambil menangis. Ia akan menangis, kenapa anak-anak didiknya begitu kurang ajar menggosip dirinya dan menertawai dirinya. segala aib : Kejelekkan,kebiadaban dan kebabingungan tentang pak Yunus sudah terungkap dan dibahas habis-habisan oleh kami semua.

Kami semua tertawa lepas, Kami semua menikmati siang itu. Justi, Wisnu, Bram, dan Rinal yang sudah kembali dari toilet putra pun ikut larut dalam tawa, kebersamaan, dan kegembiraan yang kami ciptakan bersama dibawah penderitaan guru terbaik di Agustinus, pak Yunus.